Menampilkanperilaku hormat terhadap orang tua Menampilkan adab makan dan minum Menyebutkan contoh-contoh perilaku husnuzhan terhadap Allah, diri sendiri dan sesama manusia. Membiasakan perilaku husnuzhan dalam kehidupan sehari-hari. Membiasakan perilaku terpuji.
Perilaku terjadi melalui proses adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya sebagai keadaan jiwa untuk berpendapat, berpikir, dan bersikap yang merupakan gerakan dari berbagai aspek baik fisik maupun non fisik. Berperilaku yang baik bagi anak merupakan suatu hal yang paling penting yang wajib diberikan keluarga terutama orang tua dalam mengasuh anak, bila anak mempunyai perilaku yang baik akan membawa anak menuju rasa tentram dikemudian hari. Pola asuh orang tua mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan perilaku moral pada anak, karena dasar perilaku moral pertama diperoleh oleh anak dari dalam rumah yaitu orang tuanya. Menururt Baumrind ada empat macam bentuk pola asuh orang tua yang diterapkan oleh masing-masing orang tua, bentuk-bentuk pola asuh itu adalah pola asuh otoriter, pola asuh demokrasi, pola asuh penelantaran dan pola asuh permisif. Perbedaan pola asuh orang tua seperti ini dapat berpengaruh terhadap perbedaan perkembangan emosi remaja, sebagai contoh cara memberi hukuman misalnya, kalau dulu anak dipukul karena nakal, pada masa remaja cara semacam itu justru dapat menimbulkan ketegangan yang lebih berat antara remaja dengan orang tuanya. Hukuman merupakan salah alat pendidikan represif. Alat ini memang bukan merupakan alat yang menjadi alternatif pertama dalam mendidik anak, karena sebelum menggunakan alat pendidikan ini harus terlebih dahulu menggunakan alat lain seperti nasihat dan teladan. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free ANDRAGOGI JURNAL PENDIDIKAN ISLAM, VOL 1, NO. 2 TAHUN 2019 Magister Manajemen Pendidikan Islam Institut PTIQ Jakarta 304 PENINGKATAN PERILAKU TERPUJI SISWA MELALUI PENERAPAN HUKUMAN DAN POLA ASUH ORANG TUA SISWA MUHAMAD JAMI RUSMAN Sekolah Dasar Negeri Karang Tengah 9 Kota Tangerang Jamirusman1883 ABSTRAK Perilaku terjadi melalui proses adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya sebagai keadaan jiwa untuk berpendapat, berpikir, dan bersikap yang merupakan gerakan dari berbagai aspek baik fisik maupun non fisik. Berperilaku yang baik bagi anak merupakan suatu hal yang paling penting yang wajib diberikan keluarga terutama orang tua dalam mengasuh anak, bila anak mempunyai perilaku yang baik akan membawa anak menuju rasa tentram dikemudian hari. Pola asuh orang tua mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan perilaku moral pada anak, karena dasar perilaku moral pertama diperoleh oleh anak dari dalam rumah yaitu orang tuanya. Menururt Baumrind ada empat macam bentuk pola asuh orang tua yang diterapkan oleh masing-masing orang tua, bentuk-bentuk pola asuh itu adalah pola asuh otoriter, pola asuh demokrasi, pola asuh penelantaran dan pola asuh permisif. Perbedaan pola asuh orang tua seperti ini dapat berpengaruh terhadap perbedaan perkembangan emosi remaja, sebagai contoh cara memberi hukuman misalnya, kalau dulu anak dipukul karena nakal, pada masa remaja cara semacam itu justru dapat menimbulkan ketegangan yang lebih berat antara remaja dengan orang tuanya. Hukuman merupakan salah alat pendidikan represif. Alat ini memang bukan merupakan alat yang menjadi alternatif pertama dalam mendidik anak, karena sebelum menggunakan alat pendidikan ini harus terlebih dahulu menggunakan alat lain seperti nasihat dan teladan. Kata Kunci Perilaku Terpuji Siswa dan Penerapan Hukuman ABSTRACT Behavior occurs through the process of interaction between the individual and his environment as a state of mind to think, think, and behave which is a movement from various aspects both physical and non-physical. Good behavior for children is the most important thing that must be given by the family, especially parents in caring for children, if the child has good behavior will bring the child to feel at ease in the future. Parenting parents have a very important role for the development of moral behavior in children, because the basic moral behavior is first obtained by the child from home, namely his parents. According to Baumrind, there are four types of parenting practices applied by each parent, the forms of parenting are authoritarian parenting, democratic parenting, neglect parenting and permissive parenting. Differences in parenting parents like this can affect differences in adolescent emotional development, for example how to give punishment for example, if the child was beaten for being naughty in the past, during adolescence such a method can actually cause more severe tension between adolescents and their parents. Punishment is a repressive educational tool. This tool is indeed not the first alternative tool in educating children, because before using this educational tool must first use other tools such as advice and example. Keywords Student Praiseworthy Behavior and Application of Punishment ANDRAGOGI JURNAL PENDIDIKAN ISLAM, VOL 1, NO. 2 TAHUN 2019 Magister Manajemen Pendidikan Islam Institut PTIQ Jakarta 305 A. PENDAHULUAN Pendidikan adalah suatu proses yang dilakukan secara sadar, terus menerus, terarah dan berkesinambungan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, tujuan pendidikan merupakan faktor utama yang harus diperhatikan, disadari dan dijadikan sasaran oleh setiap pendidik yang melaksanakan kegiatan pendidikan. Pendidikan merupakan sarana yang dibutuhkan untuk pengembangan kehidupan manusia. Maka dari itu pendidikan senantiasa menjadi perhatian utama dalam rangka memajukan kehidupan generasi yang sejalan dengan tuntutan kemajuan mayarakat dan bangsanya. Pendidikan mempunyai banyak arti. Emile Durkheim mendefinisikan pendidikan sebagai pengaruh yang dilaksanakan oleh orang dewasa atas generasi yang belum matang untuk penghidupan sebagai suatu pembentukan watak/kepribadian, juga harus dapat mempersiapkan sumber daya yang handal, terutama dalam memasuki abad ke-21, yang merupakan era persaingan bebas globalisasi yang menuntut ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu bersaing dalam tatanan global. Sejalan dengan hal tersebut maka menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada bab II pasal 3 menyebutkan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, tujuan untuk berkembangnya peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung Nasional yang berdasarkan atas Pancasila dan bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan agar menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Peranan pendidikan sangatlah penting sebagai usaha membangun manusia yang berkualitas yang dilandasi dengan peningkatan kecerdasan, pengetahuan, sikap dan keterampilan. Proses pendidikan diawali ketika individu dilahirkan dilanjutkan dengan Penerapan Pola Asuh Orang Tua dalam lingkungan keluarga kemudian dilanjutkan dan dikembangkan melalui jenjang pendidikan formal, terstruktur dan sistematis dalam lingkungan sekolah. Pola Asuh Orang Tua adalah kemampuan dan kesiapan orang tua memberi contoh serta membantu, mendidik, mengawasi dan memimpin anak agar anak dapat berdiri sendiri dan juga orang tua dapat memperbaiki kehidupan anak yang kurang baik sehingga menjadi baik. Pola Emile Durkheim, Pendidikan Moral Suatu Studi teori dan aplikasi sosiologi pendidikan, terjemah oleh Lukas Ginting Jakarta Erlangga, 1990, 2-3 Undang-undang Sisdiknas Sistem Pendidikan Nasional Jakarta Sinar Grafika, 2003, 5-6. ANDRAGOGI JURNAL PENDIDIKAN ISLAM, VOL 1, NO. 2 TAHUN 2019 Magister Manajemen Pendidikan Islam Institut PTIQ Jakarta 306 asuh orang tua dengan anak berdisiplin diri dimaksudkan sebagai upaya orang tua dalam meletakan dasar-dasar disiplin kepada anak dan membantu pengembangannya sehingga anak memiliki disiplin Asuh Orang Tua mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan perilaku moral pada anak, karena dasar perilaku moral pertama diperoleh oleh anak dari dalam rumah yaitu Pola Asuh Orang Tuanya. Proses pengembangan melalui pendidikan disekolah tinggal hanya melanjutkan perkembangan yang sudah ada. Menurut Chatib Thoha yang mengemukakan bahwa Pola Asuh Orang Tua adalah suatu cara terbaik yang dapat ditempuh orang tua dalam mendidik anak sebagai perwujudan dari rasa tanggung jawab kepada orang tua berkewajiban untuk mengasuh dan mendidik anaknya, sebagai contoh, bagaimana sikap atau perilaku orang tua dalam menerapkan aturan, mengajarkan nilai/norma, mem-berikan perhatian dan kasih sayang serta menunjukan sikap dan perilaku yang baik sehingga dijadikan contoh/model bagi anaknya. Casmini menyatakan bahwa gaya pengasuhan orang tua meliputi authorian, authoritative, dan permissive yang didalamnya terdapat praktek-praktek pengasuhan yang mendeskripsikan bagaimana orang tua memberikan dan meperlakukan anak yang terdiri dari peraturan, hukuman, hadiah, kontrol dan komunikasi. Pengasuhan authoritarian merupakan pengasuhan dimana orang tua suka memaksa anak-anaknya untuk patuh terhadap aturan-aturan, berusaha membentuk tingkah laku serta cenderung mengekang keinginan anak. Orang tua tidak mendorong untuk mandiri, jarang memberi pujian, hak anak sangat dibatasi tetapi dituntut mempunyai tanggung jawab sebagimana halnya orang dewasa. Anak harus tunduk dan patuh pada orang tua. Pengontrolan tingkah laku anak sangat ketat, sering menghukum anak dengan hukuman fisik, serta orang tua terlalu banyak mengatur kehidupan anak. Pengasuhan authoritative adalah pengasuhan dimana orang tua selalu memberikan alasan kepada anak saat bertindak, mendorong untuk saling membantu dan bertindak secara objektif. Orang tua cenderung tegas tetapi hangat dan penuh perhatian sehingga anak tampak ramah, kreatif dan percaya diri, mandiri dan bahagia serta memiliki rasa tanggung jawab sosial. Orang tua bersikap bebas atau longgar namun masih dalam batas-batas normatif. Pengasuhan permissive memberikan kebebasan kepada anak seluas mungkin dan sangat longgar. Anak mendapat kebebasan mengatur dirinya sendiri. Tidak ada tuntutan bagi anak untuk belajar bertanggung lingkungan keluarga orang tua sebagai pendidik di dalam keluarga memegang peranan yang sangat esensial dan strategis karena semua Schohib, Pola Asuh Orang Tua Dalam Membantu Anak Mengembangkan Disiplin Diri Jakarta Rineka Cipta, 2001, 16. Chaotib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam Yogyakarta Pustaka Pelajar, 2003, 109. Casmini, Emotional Parenting Dasar-dasar Pengasuhan Kecerdasan Emosi Anak Yogyakarta Pilar Media, 2007, 7. ANDRAGOGI JURNAL PENDIDIKAN ISLAM, VOL 1, NO. 2 TAHUN 2019 Magister Manajemen Pendidikan Islam Institut PTIQ Jakarta 307 perilaku orang tua dalam pola asuhannya akan dijadikan model anak-anaknya dan pada gilirannya anak dalam mengidentifikasi segala sesuatunya. Sedangkan strategis dimaksudkan karena kepemimpinannya orang tua yang diterima oleh anak akan berdampak secara berarti bagi perkembangan psikologis anak. Orang tua menjadi pendidik pertama dan utama bagi pendidikan anak terutama dalam penanaman keimanan, dan keimanan tersebut sangat diperlukan oleh anak sebagai landasan bagi akhlak upaya pencapaian tujuan pendidikan, salah satu hal yang diperlukan adalah alat pendidikan. Dalam proses pendidikan, alat pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat penting, karena tanpa alat pendidikan seperti bangunan sekolah, papan tulis, buku, tata tertib, hukuman dan sebagainya, maka sudah bisa dipastikan proses belajar mengajar di sekolah akan terganggu karena kurangnya fasilitas yang mendukung. Hukuman dapat diartikan sebagai penderitaan yang diberikan atau ditimbulkan dengan sengaja oleh seseorang orang tua, guru, dan sebagainya sesudah terjadi suatu pelanggaran, kejahatan atau kesalahan, atau dengan kata lain suatu perbuatan yang tidak menyenangkan dari orang yang lebih tinggi kedudukannya untuk pelanggaran dan kejahatan, dengan maksud memperbaiki kesalahan anak, bukan untuk mendendam. Dengan demikian, pemberlakuan hukuman dalam mendidik anak tidak terhenti pada hukuman itu sendiri, melainkan pada tujuan yang ada dibelakangnya, yaitu agar manusia yang melanggar itu insyaf, bertaubat, dan kembali menjadi orang yang berperilaku lebih baik. Dengan adanya sanksi atau hukuman diharapkan anak akan lebih patuh terhadap suatu peraturan, dan anak akan merasa takut untuk me-lakukan pelanggaran dan sebagainya. Penerapan sanksi dan hukuman tersebut, menurut S. Nasution merupakan salah satu tujuan pendidikan, yaitu melakukan perubahan kelakuan dan sikap anak didik seperti yang diharapkan hukuman adalah tindakkan yang dijatuhkan kepada anak secara sadar dan sengaja sehingga menimbulkan nestapa. Dan dengan adanya nestapa itu anak menjadi sadar akan perbuatannya dan berjanji dalam hatinya untuk tidak biasa dikenal dengan nama Azab, kata Azab didalam Al-Qur’an diulang sebanyak 373 kali. Jumlah yang banyak ini menunjukan perhatian Al-Qur’an yang amat besar terhadap masalah hukuman ini, dan meminta perhatian umat manusia. Selanjutnya didalam Al-Qur’an mengenai hukuman, misalnya dapat dijumpai dalam surat An-Nur ayat 2 Ahmad Tafsir, Pendidikan Anak dalam Keluarga Bandung Remaja Rosdakarya, 1996, 8. Badudu dan Sutan Muhammad Zain, Kamus Umum Bahasa Indonesia Jakarta Pustaka Sinar Harapan, 1996, 520. Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya Jakarta Rineka Cipta, 1996, 37. S. Nasution, Sosiologi Pendidikan Jakarta Bumi Aksara, 1995, 10. Amin Daten Indra Kusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan Surabaya Usaha Nasiaonal, 1999, 147. ANDRAGOGI JURNAL PENDIDIKAN ISLAM, VOL 1, NO. 2 TAHUN 2019 Magister Manajemen Pendidikan Islam Institut PTIQ Jakarta 308 ➔◆ ◆ →⬧ ◼◆ ☺ ⬧⬧ ⧫ ◆ ➔⬧ ☺ ⬧◆ ⧫❑⬧➔ ❑◆◆ ◆◆ ☺◆⧫ ⬧ ⧫✓⬧☺ “perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk menjalankan agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” Ayat ini memberikan penjelasan tentang pemberian hukuman kepada laki-laki dan perempuan yang melakukan perzinahan, dengan cara didera atau dicambuk sebanyak seratus kali cambukkan dan jangan berbelas kasihan terhadap orang yang melakukan perzinahan. Hukuman merupakan produk dari sistem otoriter. Pemberian hukuman tidak mendidik anak-anaknya untuk bersikap percaya diri, disiplin pribadi, dan kesadaran terhadap diri sendiri juga tidak mendorong keberanian anak untuk ikut berperan atau bersikap kreatif, karena dengan hukuman, orang tua menekan daya kreativitas anak yang sedang berkembang. Anak tidak akan berani mencoba, dan ia tidak akan mengembangkan kemampuan untuk melakukan sesuatu karena tidak mendapatkan kesempatan mencoba. Juga anak akan kehilangan spontanitas, dan tidak dapat mencetuskan ide-ide baru. Ia merasa tidak dapat mengimbangi teman-temannya dalam segala hal, sehingga anak menjadi pasif dalam bergaul. Lama kelamaan ia aka mempunyai perasaan rendah diri dan akan kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri. Jika seorang anak mendapat hukuman di sekolah, dan ia tidak bisa menerima hukuman tersebut dengan nyaman, maka hal tersebut akan berdampak buruk terhadap kecintaan dia kepada sekolah, teman dan para guru. Dan itu akan mendorong anak untuk mengakhiri memutus hubungan positif dengan orang-orang tersebut. Selanjut-nya, akan tumbuh dalam jiwa akan berhubungan yang buruk dengan mereka, yaitu perasaan merasa kurang dapat kasih sayang dan merasa “terpencil” secara sosial. Dan jika hal ini terjadi, semuanya itu akan mendorong mereka untuk menjalin pergaulan dengan teman-temannya yang tidak baik yang bernasib sama kemudian mereka akan membuat aliansi itu dengan cara saling mencintai dan saling membuka rahasia diantara mereka. Penerapan hukuman juga diterapkan Pada lembaga pendidikan MAN 10 joglo Jakarta Barat, aturan yang diterapkan oleh pihak ANDRAGOGI JURNAL PENDIDIKAN ISLAM, VOL 1, NO. 2 TAHUN 2019 Magister Manajemen Pendidikan Islam Institut PTIQ Jakarta 309 sekolah antara lain adalah mewajibkan bagi setiap siswi dan siswa untuk memasukkan baju seragam mereka ke dalam rok atau celana dan wajib pula memakai dasi bagi siswa atau siswi, hukuman bagi mereka yang melanggar biasanya langsung ditegur di tempat dan langsung memerintahkan mereka untuk merapikan pakaian mereka. Lain daripada itu sekolah juga maih banyak dihadapkan dengan beberapa perilaku siswa yang masih sering membolos sekolah, menyontek saat ulangan, merokok dan lain sebagainya. Oleh karena itu, lingkungan keluarga atau orang tua dirumah mempunyai andil juga dalam memperbaiki karakter mereka. Gejala-gejala yang diperlihatkan oleh siswa-siswa tersebut dapat disebabkan oleh berbagai faktor, yaitu faktor-faktor yang berasal dari dalam diri siswa dan faktor-faktor yang berasal dari luar dirinya. Kedua faktor itu dapat berpengaruh terhadap perilaku siswa. Dengan latar belakang yang telah disebutkan di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana Penerapan Hukuman dalam merubah perilaku siswa menjadi lebih baik atau minimal siswa tidak melanggar peraturan yang telah dibuat oleh pihak sekolah, dan apakah sejauh ini siswa menganggap Penerapan Hukuman sangat berpengaruh dengan Perilaku Siswa atau malah sebaliknya dan penelitian ini juga akan meneliti bagaimana Orang Tua Siswa dalam menerapkan Pola Asuh. Maka dari itu peneliti tertarik untuk meneliti tentang Pengaruh Penerapan Hukuman dan Pola Asuh Orang Tua terhadap Perilaku Siswa Madarsah Aliyah Negeri 10 Jakarta. B. METODE PENELITIAN Metode penelitian dapat diartikan dalam arti yang luas sebagai cara ilmiah, pada penelitian bisa dilakukan dengan menggunakan berbagai macam metode. Pada penelitian ini penulis menggunakan metode survai dengan pendekatan korelasional. Metode Penelitian dalam pengertian yang luas dapat diartikan sebagai cara ilmiah, untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Sugiyono mengemukakan bahwa ada empat kata kunci yang perlu diperhatikan dalam menjelaskan metode penelitian, yaitu cara ilmiah yang berarti kegiatan penelitian itu dilakukan berdasarkan pada karakteristik keilmuan, yakni rasional, emparis dan sistematis. Rasional yang berarti kegiatan penelitian itu dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal, sehingga terjangkau oleh penalaran manusia. Empiris, yakni cara-caraa yang dilakukan dalam penelitian dapat diamati oleh indera manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara-cara yang digunakan. Sistematis, artinya proses yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis. Walaupun langkah-langkah penelitian antara metode kuantitatif, kualitatif dan Research and Developement R&D berbeda, akan tetapi seluruhnya sistematis. Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D, 117. ANDRAGOGI JURNAL PENDIDIKAN ISLAM, VOL 1, NO. 2 TAHUN 2019 Magister Manajemen Pendidikan Islam Institut PTIQ Jakarta 310 Metode survai dipergunakan dengan pertimbangan-pertimbangan bahwa penelitian dilakukan untuk mendapatkan data setiap variabel masalah penelitian dari tempat tertentu yang alamiah bukan buatan dengan alat pengumpul data berbentuk angket kuesioner, test dan wawancara terstruktur dan berdasarkan pandangan dari sumber data, bukan dari peneliti. Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi. Studi atau penelitiannya juga disebut studi populasi atau studi sensus. Adapun populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI MAN 10 Jakarta. C. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pengujian hipotesis sebagaimana telah diuraikan, maka secara keseluruhan temuan dalam penelitian ini, dapat dibahas dengan cara mengkonfirmasi terhadap teori-teori yang sudah ada, sebagaimana telah dikemukakan pada Bab II, jadi dalam pembahasan penelitian ini akan diuraikan hasil temuan penelitian dan menguraikan hasil uji hipotesis beserta teori-teori yang telah diungkapkan sebelumnya. Dari hasil analisis deskriptif variabel penelitian variabel Perilaku Siswa dilihat dari skor rata-rata Perilaku Siswa yaitu 138,83 atau sama dengan 138,83150 X 100% = % dari skor idealnya yaitu 150. Data ini dapat ditafsirkan sebagai tingkat atau taraf perkembangan variabel tersebut dengan kriteria sebagai berikut. Pada kriteria taraf sangat tinggi sebesar 92,55%, hal ini menunjukkan bahwa pentingnya meningkatkan perilaku terpuji siswa baik dilingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Untuk variabel Penerapan Hukuman di lihat dari skor rata-rata yaitu 141,53 atau sama dengan 141,53150 X 100% = 94,35% dari skor idealnya yaitu 150, pada kriteria taraf sangat tinggi sebesar 94,35%. Hal ini menunjukkan bahwa pentingnya Penerapan Hukuman baik di lingkungan sekolah atau lingkungan keluarga. Sedangkan variabel Pola Asuh Orang Tua dilihat dari skor rata-rata Pola Asuh Orang Tua yaitu 139,34 atau sama dengan 139,34150 X 100% = 92,89% dari skor idealnya yaitu 150, pada kriteria taraf sangat tinggi sebesar 92,89%, hal ini menunjukkan bahwa Pola Asuh Orang Tua yang sesuai dengan tuntunan agama dapat mempengaruhi akan perilaku anak. Sedangkan pada hasil uji persyaratan hipotesis penelitian telah terpenuhi, yakni uji linieritas persamaan regresi Ŷ atas X1 dengan hasil P Sig = 0,315 > 0,05 5% atau Fhitung = 1,113 dan Ftabel dengan dk pembilang 46 dan dk penyebut 69 dan pada taraf kepercayaan signifikansi α = 0,05 adalah Fhitung 1,113 0,05 5% atau Fhitung = 0,426 dan Ftabel dengan Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Jakarta Rineka Cipta, 2002, 108. ANDRAGOGI JURNAL PENDIDIKAN ISLAM, VOL 1, NO. 2 TAHUN 2019 Magister Manajemen Pendidikan Islam Institut PTIQ Jakarta 311 dk pembilang 20 dan dk penyebut 95 dan pada taraf kepercayaan signifikansi α = 0,05 adalah 1,65 Fhitung 0,426 0,05 5% atau Zhitung dan Ztabel pada taraf kepercayaan/signifikansi α = 0,05 adalah 1,645 Zhitung
Perilakuterpuji terhadap orang yang lebih muda Soal Penjaskes Kelas 4 Semester 2 Dan Kunci 2017. Perilaku terpuji Tawadhu taat qanaah dan sabar Semester duacontoh makalah pai tentang membiasakan diri perilaku terpuji june 12th 2018 - dalam aqidah terdapat aliran jabariyah perilaku terpuji merupakan perilaku yang buku dan sumber lainnya yang
BANJARNEGARAKU - Salam semangat belajar adik-adik kelas 6, kali ini kita akan mengulas mengenai pembahasan dan kunci jawaban contoh soal US Ujian Sekolah PJOK Kelas 6 SD MI, perilaku terpuji terhadap orang tua. Berikut pembahasan dan kunci jawaban pertanyaan contoh soal US PJOK Kelas 6 SD MI, perilaku terpuji terhadap orang tua. Dalam artikel ini kita akan membahas kunci jawaban dari pertanyaan contoh soal US PJOK Kelas 6 SD MI, perilaku terpuji terhadap orang tua. Baca Juga Jenis Tendangan pada Pencak Silat, Pembahasan dan Kunci Jawaban Latihan Soal US PJOK Kelas 6 SD MI Pertanyaan tersebut adalah salah satu contoh pertanyaan yang termuat dalam buku Aktif Berolahraga PJOK Kelas 4 SD pada pelajaran 10, perilaku terpuji dalam pergaulan sehari-hari. Artikel pembahasan dan kunci jawaban ini dipandu oleh Nowo Sarwidi, pendidik di SD Negeri 1 Aribaya, Kecamatan Pagentan, Banjarnegara yang telah bekerja sama dengan Untuk menjawab pertanyaan berkaitan dengan persoalan tersebut maka kita dapat kembali ke materi perilaku terpuji dalam pergaulan sehari-hari. Baca Juga Kunci Jawaban dan Pembahasan Tema 7 Kelas 3 SD MI Halaman 145 146, Ringkasan Teks 'Alat Komunikasi Tulisan' Sebelum menjawab pertanyaan tersebut maka kita bisa merujuk pada pembelajaran PJOK tentang perilaku terpuji terhadap orang tua.
yn8sfb9qrb.pages.dev/276 yn8sfb9qrb.pages.dev/66 yn8sfb9qrb.pages.dev/339 yn8sfb9qrb.pages.dev/420 yn8sfb9qrb.pages.dev/359 yn8sfb9qrb.pages.dev/426 yn8sfb9qrb.pages.dev/230 yn8sfb9qrb.pages.dev/8
PERILAKUTERPUJI. 1.ADIL A.PENGERTIAN ADIL. Kata 'adl adalah bentuk masdar dari kata kerja 'adala - ya'dilu Ridha terhadap perintah orang tua merupakan salah satu bentuk ketaatan kita kepada Allah swt. karena keridhaan Allah tergantung pada keridhaan orang tua, perintah Allah dalam Q.S. Luqman (31) ayat 14 ;
Perilaku terpuji merupakan sikap atau perbuatan yang berdampak baik yang dilakukan baik ke sesama, atau pun ke lingkungan disekitarnya sehingga patut terpuji dapat dilakukan diberbagai kondisi, tempat atau lingkungan, misalnyaa. Perilaku terpuji dalam menjaga kesehatan; - kesehatan diri sendiri, - kesehatan keluarga, dan - kesehatan lingkunganb. Perilaku terpuji dalam pergaulan sehari-hari - terhadap teman - terhadap orang yang lebih tua - terhadap orang yang lebih mudaPerilaku Terpuji Menjaga Kesehatan Diri SendiriMenjaga kesehatan diri sendiri, termasuk dalam perilaku terpuji karena dengan menjaga kesehatan diri kita adalah bentuk penghargaan terhadap tubuh kesehatan diri dapat dilakukan dengan cara;- menjaga kebersihan diri coba tuliskan 3 contohnya 1. ..... 2. ..... 3. .....- menjaga Kesehatan diri coba tuliskan 3 contohnya 1. ..... 2. ..... 3. .....- menjauhi aktivitas atau tindakan yang dapat merusak diri baik fisik atau pun mental coba tuliskan 3 contohnya 1. ....... 2. ...... 3. ......Perilaku Terpuji Menjaga Kesehatan KeluargaMenjaga kesehatan keluarga juga termasuk dalam perilaku terpuji. Menjaga kesehatan keluarga dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain; 1. membersihkan setiap ruangan rumah 2. menyediakan tempat pembuangan sampah 3. menjaga kebersihan airPerilaku Terpuji Menjaga Kesehatan LingkunganLingkungan merupakan bagian dari kehidupan kita, maka dengan menjaga kesehatan lingkungan kita memberikan dampak yang baik, bagi diri kita, keluarga ataupun orang-orang yang ada cara yang dapat dilakukan dalam menjaga kesehatan lingkungan; 1. menjaga kebersihan jalan sekitar sekolah atau pun rumah dapat dengan cara menyediakan tempat sampah 2. menjaga kebersihan selokan dengan dengan tidak membuang sampah keselokan 3. menjaga kebersihan sarana umum halte bus, wc umum, jembatan, dan lainya dengan cara tidak mencoret atau mengotori sarana umumPerilaku Terpuji Terhadap TemanSikap terpuji dengan teman penting dilakukan, karena dengan melakukan sikap yang baik, kita dapat semakin mendapat banyak teman dimanapun kita terpuji terhadap teman misalnya; yuk kita tuliskan contohnya 1. ...... 2. ....... 3. .......Perilaku Terpuji Terhadap Orang yang lebih TuaKita sebagai anak-anak atau yang lebih muda, sudah sepantasnya menghormati orang yang lebih tua dari kita. Sikap terpuji terhadap orang yang lebih tua misalnya; yuk kita tuliskan contohnya 1. ...... 2. ....... 3. .......Perilaku Terpuji Terhadap orang yang lebih mudaSelain menghargai dan menghormati orang yang lebih tua, kita juga menghargai dan menghormati yang lebih muda dari kita misalnya adik kita dirumah atau adik kelas sajakah contohnya sikap terpuji kita terhadap irang yang lebih muda?misalnya 1. mendengarkan saat mereka berbicara atau memberikan pendapat 2. memberikan nasehat 3. tidak memarahi 4. tidak mengejek atau menggangguKesimpulanSikap terpuji merupakan sikap yang patut kita lakukan dimanapun kita berada. Dengan memiliki sikap terpuji kita akan selalu mendapatkan hal baik, seperti memiliki teman yang banyak, disayang orang tua, guru dan orang orang yang memiliki sikap terpuji yang kita lakukan, kita juga dapat menciptakan lingkungan yang sehat dan bersih yang memberikan dampak baik untuk kehidupan kita dan orang-orang disekitar kita.* untuk menambah penjelasan atau pengetahuan kalian bisa melihat di buku pegangan siswa ataupun mencari dari sumber lain.
Bermanfaatbagi orang lain, seperti teman, orang yang lebih tua, hingga bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Baba Yaga Situs Informasi Pendidikan Dan Kebudayaan. Berilah contoh perilaku terpuji terhadap teman sebaya ! (Jawabannya) kiyo May 26, 2022 Pendidikan Leave a comment 8 Views.
11 Contoh Perilaku Hormat dan Patuh Kepada Orang Tua dan Guru di Sekolah – Sikap terpuji berupa hormat dan patuh pada orang yang lebih tua wajib diterapkan, termasuk di lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah. Contoh Perilaku Hormat dan Patuh di Rumah dan SekolahDaftar IsiContoh Perilaku Hormat dan Patuh di Rumah dan SekolahContoh Perilaku Hormat dan Patuh Kepada Orang Tua di RumahContoh Perilaku Hormat dan Patuh Kepada Guru di SekolahManfaat Hormat Kepada Orang Tua dan Guru Daftar Isi Contoh Perilaku Hormat dan Patuh di Rumah dan Sekolah Contoh Perilaku Hormat dan Patuh Kepada Orang Tua di Rumah Contoh Perilaku Hormat dan Patuh Kepada Guru di Sekolah Manfaat Hormat Kepada Orang Tua dan Guru sofatutor Bagi kamu yang sedang menjalani status sebagai pelajar dan menempuh pendidikan di sekolah, ada sikap terpuji yang wajib diterapkan. Sikap tersebut misalnya hormat dan patuh terhadap guru. Tidak hanya itu, sikap hormat dan patuh juga perlu diterapkan di lingkungan keluarga pada orang tua. Penerapan sikap tersebut bisa membawa dampak positif bagi kehidupan pelakunya. Apakah kamu sudah tahu apa saja contoh-contoh hormat dan patuh kepada orang tua serta guru? Jika belum, simak pembahasannya pada artikel berikut ini. Contoh Perilaku Hormat dan Patuh Kepada Orang Tua di Rumah Perilaku hormat dan patuh kepada orang tua di rumah dapat diterapkan dengan cara-cara berikut ini 1. Meringankan Beban Orang Tua Saat berada di rumah, orang tua seringkali meminta bantuan anak untuk membantu menyelesaikan pekerjaan rumah, seperti mencuci piring, menyapu rumah, mencuci baju, mengepel lantai, dan pekerjaan lainnya. Kamu dapat membuktikan diri sebagai anak yang patuh pada orang tua dengan mematuhi instruksi orang tua untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Hindari mengeluh atau mengomel pada orang tua saat diminta mengerjakan pekerjaan rumah. 2. Rajin Belajar Sebagai seorang anak, tugas utama anak adalah belajar di sekolah. Tidak mengherankan jika orang tua mengingatkan anak untuk mengutamakan belajar kemudian bermain. Sayangnya, ada anak yang justru malas untuk belajar karena terkendala berbagai macam hal, seperti karena terlalu lelah. Oleh karena itu, rajin belajar saat diminta orang tua menjadi salah satu cara untuk patuh. 3. Tidak Menyela Pembicaraan Orang Tua Untuk bisa menunjukkan rasa hormat pada orang tua, kamu bisa menghormati mereka saat berbicara dengan tidak menyela pembicaraan. Terkadang seorang anak tidak sabar saat orang tua sedang berbicara dan ingin cepat-cepat memasuki topik tersebut. Padahal, dengan menyela pembicaraan orang tua, kamu akan menunjukkan sikap tidak hormat dan tidak sopan. Sebaiknya kamu menunggu terlebih dahulu sampai orang tua selesai berbicara, kemudian baru mengutarakan maksudmu. 4. Menjaga Etika dan Sopan Santun Hormat pada orang tua di rumah bisa juga kamu lakukan dengan selalu menjaga etika serta kesopanan, baik dalam hal ucapan, perkataan, ataupun perbuatan. 5. Menjaga Intonasi Suara Saat bersama orang tua, hindari menggunakan intonasi dengan nada tinggi yang bisa membuat orang tua tersinggung. Sebab, seringkali anak menggunakan nada tinggi karena kesal atau marah pada orang tua. Anak bisa saja membentak orang tua karena terlalu kesal. Padahal membentak orang tua dan berteriak bukanlah contoh perilaku hormat pada orang tua dan bisa membuat orang tua sakit hati. Contoh Perilaku Hormat dan Patuh Kepada Guru di Sekolah Perilaku hormat dan patuh kepada guru di sekolah dapat diterapkan dengan cara-cara berikut ini 1. Menghargai Pendapat Guru Saat berada di sekolah, perbedaan pendapat yang terjadi antara guru dan siswa adalah hal biasa. Namun, hal tersebut tidak lantas menjadi sesuatu yang memicu pertengkaran. Sebagai siswa, kamu perlu menghargai perbedaan pendapat, apalagi jika pendapat tersebut berkaitan dengan pelajaran. Apabila kamu ingin memastikan kebenaran pendapat, jangan ragu untuk berdiskusi dengan guru. 2. Menggunakan Bahasa yang Sopan Gunakan bahasa yang sopan saat berinteraksi dengan guru untuk menunjukkan sikap menghormati guru. Terkadang ada yang menggunakan bahasa sehari-hari saat berkomunikasi dengan guru, padahal guru lebih tua dan harus dihormati. Apabila guru menggunakan bahasa gaul atau bahasa anak muda, kamu tetap perlu menggunakan bahasa yang lebih sopan. Sebab, guru pasti punya alasan menggunakan bahasa gaul agar lebih dekat dengan murid. 3. Tidak Meninggikan Suara di Hadapan Guru Saat kamu merasa marah dan emosi pada guru, tetap kemukakan pendapat yang kamu miliki dengan nada rendah. Sebab, meninggikan suara di hadapan guru tidak menunjukkan sikap hormat. Apabila kamu hendak menyampaikan pendapat namun lokasimu dengan guru cukup jauh, sebisa mungkin cobalah mengubah posisi dan mendekat dibandingkan berteriak karena tidak sopan. 4. Menjaga Amanah dari Guru Guru seringkali memberikan amanah berupa pekerjaan rumah atau tugas sekolah. Dengan menerapkan sikap patuh pada guru, kamu pun akan berusaha menjaga amanah dari guru dan berusaha menjalankan hal yang diinstruksikan oleh guru. Menjaga amanah dari guru juga bisa dilakukan dengan mematuhi perintah guru selama hal tersebut bernilai positif. Contoh amanah yang biasanya diberikan guru misalnya menyampaikan surat pemberitahuan nilai pada orang tua, menyampaikan surat undangan, menitipkan barang ke kantor, dan sebagainya. 5. Meminta Izin Saat Melakukan Sesuatu Untuk menunjukkan sikap hormat pada guru, jangan lupa meminta izin saat akan melakukan sesuatu, misalnya saat akan ke toilet, ingin minum di kelas, dan sebagainya. Jika kamu tidak meminta izin dan langsung pergi begitu saja, guru mungkin akan marah, menegurmu, dan membuat hubungan antara guru dan siswa menjadi terganggu. Selain itu, tidak meminta izin saat akan melakukan sesuatu merupakan bentuk hal yang tidak hormat. 6. Berkata Jujur Hindari mengatakan kebohongan saat berbicara dengan guru. Sebab, ada banyak kasus berkaitan dengan kebohongan yang dilakukan siswa, misalnya saat siswa datang terlambat, siswa yang membolos sekolah, hingga siswa yang lupa mengerjakan tugas. Manfaat Hormat Kepada Orang Tua dan Guru Sikap hormat kepada orang tua dan guru memberikan banyak manfaat, seperti Membuat hubungan antara orang tua atau guru senantiasa terjaga. Memberikan keberkahan terhadap ilmu yang diberikan orang tua atau guru Lebih mudah dalam menerima ilmu yang disampaikan Disayang oleh orang tua dan guru Kehidupan menjadi lebih tenang dan harmonis Menghindarkan diri dari konflik Tentu masih ada banyak manfaat lainnya yang bisa kamu dapatkan dengan menghormati orang tua serta guru, sehingga sikap tersebut bisa kamu terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penutup Demikian informasi mengenai 11 contoh perilaku hormat dan patuh kepada orang tua dan guru di sekolah yang bisa kamu terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain contoh di atas, masih ada contoh contoh hormat kepada orang tua dan guru yang bisa ditiru. Sebisa mungkin biasakan diri untuk menerapkan sikap tersebut agar tidak kesulitan saat berhadapan dengan orang tua ataupun guru. Dapatkan artikel lainnya tentang sikap positif dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari melalui blog Mamikos. Ada banyak informasi yang akan kamu dapatkan untuk pelajar, mahasiswa, serta anak kost. Klik dan dapatkan info kost di dekat kampus idamanmu Kost Dekat UGM Jogja Kost Dekat UNPAD Jatinangor Kost Dekat UNDIP Semarang Kost Dekat UI Depok Kost Dekat UB Malang Kost Dekat Unnes Semarang Kost Dekat UMY Jogja Kost Dekat UNY Jogja Kost Dekat UNS Solo Kost Dekat ITB Bandung Kost Dekat UMS Solo Kost Dekat ITS Surabaya Kost Dekat Unesa Surabaya Kost Dekat UNAIR Surabaya Kost Dekat UIN Jakarta
Bertangggungjawab merupakan salah satu contoh perilaku terpuji, Tanggung jawab adalah suatu sikap yang mencerminkan suatu perilaku atau sikap yang ditunjukan oleh seseorang yang masih berbuat dan bertingkah laku sesuai dengan kewajiban yang diembangnya dan menyadari akan perilaku dan sikap yang ditunjukan.
LAMPIRAN RPP PJOK KELAS IVLAMPIRAN RPP PJOK KELAS IVPutri ER1. Perilaku terpuji adalah perbuatan atau tindakan seseorang yang hasilnya akan bermanfaat bagi orang lain sehingga patut dicontoh dalam kehidupan terpuji dapat diterapkan kepada teman sebaya, orang lebih tua, dan orang lebih muda.
kh4z.